Rabu, 17 Januari 2018

Foto viral 'harimau Jawa' kemungkinan satwa hibrida?

harimauHak atas fotoBALAI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON
Image captionSatwa yang diduga 'Harimau Jawa' terekam kamera jebakan di Taman Nasional Ujung Kulon, Provinsi Banten. Sudah sejak 1996, hewan tersebut dinyatakan punah.
Akhir Agustus, seekor hewan yang diduga 'harimau Jawa' tertangkap kamera berkeliaran di Padang Penggembalaan Cidaon, Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Gambar tersebut beredar ke grup percakapan online dan memancing rasa penasaran: Benarkah harimau Jawa (Panthera tigris sondaicus) belum punah?
Di dalam gambar, hewan yang diduga 'harimau Jawa' itu berjalan meninggalkan bangkai seekor banteng. Banyak yang kemudian melempar spekulasi, banteng tersebut baru saja 'dimangsa'.
Kepada BBC Indonesia, Didik Raharyono yang 20 tahun terakhir meneliti harimau Jawa mengatakan hewan yang terfoto itu 'unik' dan 'sedikit membingungkan'. Walau cukup yakin hewan tersebut macan tutul, tapi Didik mulai penasaran setelah mencermati loreng di bagian perut yang tampak seperti milik harimau.
Terbuka kemungkinan ini sejenis satwa hibrida —hasil persilangan dua spesies berbeda yang bisa dipicu oleh tumpang tindih habitat.
''Saya coba utak-atik foto, diterangkan dan ditajamkan. Di bagian kaki depan menuju leher ada titik-titik ciri khas macan tutul.Tapi saya penasaran, ada pola garis-garis di bagian perutnya. Jangan-jangan ini (satwa) hibrida,'' kata dia. ''Ini masih perkiraan kasar saya, butuh pendalaman lagi memang.''
Ujung KulonHak atas fotoAFP
Image captionTaman Nasional Ujung Kulon, kawasan suaka margasatwa yang berada di ujung barat Pulau Jawa.
Didik yakin betul yang terfoto adalah macan tutul, berpatokan pada bentuk ekornya. ''Ekornya besar dan agak panjang, separuh dari tubuhnya. Dan itu sangat menunjukkan dia macan tutul, bukan harimau loreng,'' kata Didik. Macan tutul suka sekali manjat lalu berpindah antarpohon. Ekornya pun dipakai untuk menjaga keseimbangan. Sedangkan, harimau dinilai kurang mahir memanjat pohon dan cenderung hidup dekat permukaan tanah, akibatnya ekor harimau lebih kecil.
Meski masih sumir, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon Mamat Rahmat — otoritas tempat hewan itu terfoto — penuh harap.
''Saya harap-harap cemas. Secara personal meyakini kucing besar tersebut masih ada,'' kata tersebut.
Mamat berpendapat hewan yang muncul di video trap pada 25 Agustus tersebut memiliki loreng menyerupai harimau. ''Dari corak warna berbeda sekali. Lorengnya mendekati loreng harimau Jawa,'' kata dia. Sedangkan dari ukuran, menurut Mamat, hewan tersebut cenderung masih kecil. ''Kami lihat kalau dari video itu kelihatannya jantan, masih anak remaja,'' kata dia.
Mamat sudah bertugas di belantara Ujung Kulon sejak 1998 dan kerap mendapat laporan tentang keberadaan lodaya, sebutan dalam bahasa Sunda untuk Harimau Jawa.
''Pak, kami ketemu dengan lodaya,'' begitu Mamat menirukan ucapan peziarah Sanghiyang Sirah di kawasan Ujung Kulon. ''Kami ketemu, pak, lodaya makan banteng. Lodaya sedang berjemur.''
harimauHak atas fotoDIDIK RAHARYONO
Image captionPerbandingan spesimen macan tutul dan harimau Jawa. Dokumentasi Didik Raharyono
Mamat penasaran. Akhirnya diputuskan, bulan lalu video trap mulai ditanam di perbukitan Gunung Payung, Ujung Kulon. Hasilnya, kata Mamat, yang paling banyak terekam adalah rusa, kijang, kancil, dan babi hutan.
Dia menambahkan, saat itu hujan masih turun di Ujung Kulon. ''Berbeda dengan sekarang. Kondisi sekarang kemarau, maka mangsa turun ke bawah mencari sumber air di padang penggembalaan. Ini logika kenapa predator tersebut ada di sana, mengikuti pergerakan dari mangsanya,'' kata dia.

'Klaim punah itu lemah'

Agustus ini, genap dua puluh tahun Didik Raharyono mendanai riset sendiri dengan topik harimau Jawa.
''Sebab dalam pandangan ilmiah saya, klaim punah itu lemah dalam metodenya,'' kata Didik.
Dia mengaku mengantongi banyak bukti bahwa harimau Jawa masih hidup.
Didik antara tahun 2010 dan 2011 menyebutkan bahwa dia memperoleh sampel kulit dari hewan yang diduga kuat harimau Jawa. Lantaran tidak mampu mendanai uji DNA, sampel tersebut sempat dititipkan ke berbagai lembaga riset seperti Eijkman, Institut Pertanian Bogor, LIPI, UGM, dan UPI. Sampai sekarang belum ada jawaban. ''Karena keterbatasan dari sumber dana, makanya nunut (ikut) saja,'' kata dia.
harimauHak atas fotoDIDIK RAHARYONO
Image captionKulit 'harimau Jawa' yang dibunuh pada 1995 di Blora. Dokumentasi: Didik Raharyono
harimauHak atas fotoDIDIK RAHARYONO
Image captionKuku 'harimau Jawa' yang dibunuh pada 2008 di Ciamis. Dokumentasi Didik Raharyono
''Alhamdulilah, kemarin sempat buat film dokumenter diajak teman-teman Animal Planet dari program Extinct or Alive. Semua hasil temuan saya paparkan, berikut sampel yang saya koleksi. Mereka sangat berminat,'' kata Didik senang.
Sebab kata dia, selama ini temuan sampelnya hanya sebatas poin rekomendasi. ''Untuk riset harimau saya selalu ditolak (proposalnya) dengan alasan harimau Jawa sudah punah, kenapa diteliti?''
Apa saja bukti keberadaan harimau Jawa yang dimiliki oleh Didik?
Menurut dia, kelompok pecinta alam di Jember sudah sejak lama mengoleksi plaster cast dari jejak harimau Jawa. Ukuran jejak tersebut bervariasi, dari 24 x 25 cm sampai 16 x 14 cm. ''Itu sudah di luar ukuran jejak macan tutul. Macan tutul maksimal diameter jejaknya 10 cm.''
Diantar pemburu lokal ke tepian Taman Nasional Meru Betiri, Banyuwangi, Didik juga pernah menjumpai bekas cakaran pohon setinggi 2 meter 80 cm. Lagi-lagi, menurutnya itu di luar jangkauan macan tutul yang biasanya hanya setinggi 150 cm. ''Ciri khas kukunya, jarak antar kukunya juga kita pelajari.''
''Saya sudah gembar-gembor lama tapi tidak ada institusi manapun yang berminat kerja sama di riset ini,'' ujar dia.
Sepanjang risetnya, menurut Didik temuan menarik didapat dari para pemburu dan sejumlah pencari madu serta pencari burung yang intensitas masuk hutan cukup sering dan durasinya sangat lama. Itu sebabnya peluang mereka bertemu satwa sangat tinggi. ''Pemburu, mereka sudah membedakan loreng harganya bisa Rp5 juta sampai Rp15 juta, ada syarat-syarat khusus. Kalau tutul rata-rata Rp3-4 juta kisarannya. Nah, dari situ kan mereka sudah benar-benar paham.''
Data-data masyarakat itu yang kemudian ditelusuri Didik ke lokasi.
Dari sumber data yang sama, dia menarik kesimpulan bahwa perdagangan bagian tubuh harimau Jawa masih ramai antara tahun 2004 dan 2008 sesudah status hewan tersebut dinyatakan punah. Di Taman Nasional Meru Betiri, yang menjadi lokasi penentu kepunahan harimau Jawa, terakhir kali hewan yang diduga harimau Jawa mati terbunuh pada 2012. Sedangkan di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat, menurut Didik masih cukup sering laporan perjumpaan masyarakat dengan harimau Jawa.

Ekspedisi kucing besar

etelah menerima laporan petugas lapangan yang berhasil mendapat video hewan yang diduga harimau Jawa, Balai Taman Nasional Ujung Kulon membentuk tim khusus. Gunanya memastikan, apakah hewan yang tampak memangsa banteng tersebut dari jenis macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) atau harimau Jawa (Panthera tigris sondaicus).
''Tim kami sudah menemukan kotoran kucing, cuma apakah itu kotoran macan tutul atau yang lainnya, masih kami kumpulkan untuk dianalisis,'' ungkap Mamat.
harimauHak atas fotoDIDIK RAHARYONO
Image captionKulit 'harimau Jawa' yang dibunuh pada 2013 di Jawa Timur. Dokumentasi Didik Raharyono
harimauHak atas fotoDIDIK RAHAYONO
Image captionKulit misai 'harimau jawa' yang dibunuh pada 2014 di Jawa Timur. Dokumentasi Didik Raharyono
Tim berangkat menyisir lokasi dan mengambil sampel kotoran, cakaran, serta rambut untuk kemudian dianalisis DNA-nya. Sekaligus memasang video di lapangan. ''Mereka masih di lapangan. Kami rencanakan tim bekerja selama 10 hari. Sampai saat ini belum ada hasil, karena tim masih bekerja di lapangan.''
Wilayah yang disisir oleh tim diawali dari titik penemuan gambar, yakni Padang Penggembalaan Cidaon, di seberang Pulau Peucang. Dari situ tim terbagi dua, satu menyisir ke arah Gunung Payung, sedangkan lainnya ke arah perbukitan Talanca yang menurut Mamat merupakan habitat kucing besar.
Masyarakat dilibatkan dalam tim, kata Mamat. Ada juga seorang pengamat yang berpengalaman melakukan survei Harimau Sumatera.
Adapun Didik memberi masukan, bangkai banteng yang terlihat dekat hewan yang diduga harimau Jawa tadi sesungguhnya merekam banyak informasi.
Kalau mau mendetailkan, kata dia, bisa dilihat dimana luka pada banteng. Apakah dia mati karena dibunuh atau mati tua?
''Kalau memang bangkai banteng itu dibunuh, maka bisa kelihatan sekali bekas pembunuhan dari karnivor besarnya. Kalau ada luka bekas taring, misalnya di bagian tengkuk atau di leher banteng, itu jelas adalah bekas harimau Jawa. Dan kalau itu bekas harimau jawa, analisis saya macan tutul itu hanya melintas dan memanfaatkan itu,'' kata Didik.
Menurut dia, hewan yang mampu membunuh banteng dan mampu menerkam banteng sebesar itu hanya harimau Jawa





sumber : https://www.youtube.com/watch?v=aLYpqx3u14Y
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-41278190
ARTIKEL TEMAN :

Rabu, 10 Januari 2018

Mitos Tentang Pantangan Pendaki Berjumlah Ganjil Memang Bikin Penasaran. Seberapa Bahaya, Sih?

1 YEAR AGO BY MEILY ROHMATUN
myth, hike, mountain
Mendaki gunung sudah menjadi bagian dari kegiatan traveling yang digemari banyak orang. Selain mencari kepuasan lewat suasana dan panorama alam yang ditawarkan, beberapa orang merasa lebih tertantang untuk melakukan perjalanan menuju puncak gunung dengan segala kesulitan yang dihadapinya.
Dibalik keseruan dan pengalaman yang bisa didapatkan dari mendaki, beberapa gunung dipercaya sebagai tempat yang sakral dan gaib. Sehingga jangan heran jika kamu menemukan peraturan-peraturan yang dianggap kurang lazim dan harus dipenuhi sebelum melakukan pendakian. Diantara peraturan-peraturan tersebut, juga terdapat beberapa pantangan atau larangan tertentu yang jika dilanggar maka dipercaya akan berakibat fatal bagi para pendaki.
Salah satu pantangan yang diterapkan adalah larangan untuk mendaki dengan jumlah pendaki ganjil. Beberapa destinasi pendakian yang memberlakukan aturan ini antara lain Gunung Lawu, Gunung Slamet, Gunung Arjuna, Gunung Welirang dan Gunung Semeru. Ada apa ya, dengan angka ganjil?

Konon katanya, jika kamu mendaki gunung dengan rombongan berjumlah ganjil, hal itu bisa mendatangkan kesialan. Masa, sih?

pamali kalo ganjil
pamali kalo ganjil via goborobudur.com
Ketika akan melakukan pendakian di gunung-gunung tertentu, kamu akan menemukan larangan-larangan baik dalam bentuk tertulis maupun anjuran secara langsung oleh tim pos penjagaan. Salah satu diantaranya adalah kamu disarankan untuk nggak membawa anggota dengan jumlah ganjil.
ADVERTISEMENT
Menurut mitos, jika kamu tetap nekat dengan anggota berjumlah ganjil, maka rombonganmu akan digenapkan oleh penunggu gunung tersebut. Dengan kata lain, akan ada anggota rombongan pendakian yang entah tersesat ataupun sengaja disembunyikan.
Kok seram, ya? Oke, coba kita telusuri dari salah satu spot, yuk!

Sebagai pusat spiritual di Pulau Jawa, Gunung Lawu memiliki ‘keunikan’ tersendiri. Hal inilah yang membuat para pendaki nggak boleh sembarangan dalam melakukan pendakian

jalur pendakian Gunung Lawu
jalur pendakian Gunung Lawu via hielmy10.blogspot.co.id
ADVERTISEMENT
Gunung Lawu memang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan gunung lain di Pulau Jawa di mana aura mistis dapat dirasakan secara langsung. Menurut Bintang Lawu, sosok yang sangat mengenal seluk beluk Gunung Lawu, gunung dengan ketinggian 3265 mdpl ini merupakan pusat spiritual di pulau Jawa dan sebagai tempat peradaban pertama kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa. Konon, raja pertama dipercaya sebagai utusan dewa dari kayangan yang terkesima melihat pesona yang tersimpan di Gunung Lawu.
Gunung yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini juga memiliki tingkat misteri yang nggak kalah menyeramkan dibandingkan dengan banyaknya gunung angker di Pulau Jawa. Bahkan dengan keberadaan banyaknya makam di sekitar gunung ini yang dipercaya adalah makam para raja zaman kerajaan dahulu, membuat semua pendaki nggak boleh sembarangan dalam melakukan pendakian atau akibatnya akan fatal jika melanggar aturannya.
Mungkin karena hal-hal bersifat sejarah yang sakral dan agak mistis inilah, maka diberlakukan aturan untuk nggak melakukan pendakian dengan jumlah anggota rombongan yang ganjil. Di mana angka ganjil ini kerap dikaitkan dengan hal-hal yang berbau mistis.

Tapi, kenapa harus ‘ganjil’ yang jadi permasalahannya? Padahal masih banyak hal lain yang bisa dijadikan aturan keselamatan untuk pendakian

kenapa harus ganjil?
kenapa harus ganjil? via tympanifkunjani-ar.blogspot.co.id
Angka ganjil adalah angka yang apabila dibagi dengan angka 2 hasilnya nggak akan bulat atau dengan kata lain akan menjadi bilangan desimal. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa angka ganjil memiliki kekuatan magis, diantaranya ada yang berpendapat akan mendapat kejadian aneh dan juga kejadian yang nggak menyenangkan apabila mereka berhubungan dengan angka ganjil.
Jika mendaki dengan jumlah ganjil, banyak kejadian aneh yang dialami pendaki. Salah satunya acapkali terjadi di Gunung Slamet. Banyak cerita yang mengisahkan tentang bertambahnya jumlah rombongan ketika berjumlah ganjil. Misal dari 3 jadi 4 orang, dari 7 jadi 8 orang.
Salah satu pendaki bercerita bahwa ia mendaki Gunung Slamet bersama 2 temannya. Jadi total bertiga. Nah ketika mereka tidur di tenda, ia terbangun pada tengah malam. Ia heran, kok ada 4 orang di tendanya. Tanpa pikir panjang ia kembali tidur sembari ketakutan. Besok paginya ia bercerita kepada teman-temannya dan sontak bulu kuduk pun merinding.
Kadang nggak cuma pas tidur aja. Kisah lain menyebutkan, ada satu orang yang ‘disembunyikan’ oleh makhluk ghaib sehingga jumlahnya kembali genap. Atau, dia suka iseng ikut berfoto bersama pendaki untuk menggenapkan yang ganjil. Kadang-kadang juga ikut mendaki bersama rombongan. Serem abis ‘kan?

Padahal jika ditelisik lebih jauh, mendaki gunung dengan jumlah anggota ganjil juga punya beberapa keuntungan, lho!

lebih mudah ambil keputusan
lebih mudah ambil keputusan via solid-goldberjangka.com
Meskipun beberapa spot pendakian telah memberlakukan aturan untuk membawa anggota rombongan dengan jumlah genap, sebenarnya para pendaki dengan jumlah yang ganjil juga nggak keliru-keliru amat.
Saat rombongan mengalami kebingungan dan membutuhkan keputusan dengan cepat, jumlah anggota yang ganjil akan memudahkan proses pengambilan suara jika diperlukan.
Namanya juga perjalanan satu rombongan, masing-masing kepala pasti memiliki perbedaan persepsi yang harus disamakan untuk mengambil keputusan bersama. Coba bayangkan, jika anggota rombongan pendakian berjumlah genap, bisa jadi kesulitan saat dilakukan pengambilan suara karena memungkinkan terjadinya kesamaan jumlah suara. Masuk akal, kan?
Selain itu, beberapa anggapan dan kepercayaan lain justru menganggap angka ganjil sebagai sebuah keberuntungan. Ada pula masyarakat yang menganggap keganjilan nggak ada pengaruhnya pada kehidupan mereka sehari-hari, angka ganjil adalah angka yang sama dengan angka lainnya.

Meski masih dianggap sebagai kepercayaan yang melekat pada masyarakat, alangkah baiknya kamu mengambil sikap yang bijak untuk menanggapi mitos ini

jadi pendaki yang bijak
jadi pendaki yang bijak via www.tonfeb.com
Terlepas dari segala mitos dan kemungkinan-kemungkinan bersifat gaib yang mungkin menimpa kita saat mendaki gunung, baiknya kamu membuka pikiran lebih jauh. Semua itu tergantung bagaimana kita melihat dan menyikapi fenomena-fenomena yang pernah dialami oleh sebagian orang.
Mungkin ada kalanya kita harus mematuhi peraturan yang ditetapkan saat akan mendaki gunung, karena namanya peraturan dimanapun harus dipatuhi. Apalagi jika status kita adalah sebagai pendatang. Tapi juga jangan menjadi fanatik dan nggak berpikir secara logis. Kehidupan berkembang, suatu saat mitos juga akan hilang seiring berjalannya waktu. Tetap berhati-hati, ya!

sumber : https://www.hipwee.com/travel/ada-mitos-dilarang-naik-gunung-dengan-jumlah-pendaki-ganjil-penasaran-benar-nggak-ya/